Ticker

6/recent/ticker-posts

Mic Lebih Tajam dari Palu Hakim, Dari Konferensi Pers ke Ruang Hukum. Ketika Lisan Menjadi Ujian Wibawa Profesi

Media Informasi Online | WartaBarkas
Wartawan Berita Akurat Ringkasan Kasus

Info: Samsul Arifin 

Jakarta, WartaBarkas - Hukum tidak pernah lahir untuk mencari siapa yang paling menang.  
Hukum hadir agar semua pihak belajar, agar kebenaran punya ruang, dan agar publik menerima informasi yang jernih, bukan yang gaduh.

Itulah semangat yang kini mengemuka setelah pernyataan seorang advokat di depan kamera memantik polemik panjang.

Pemicu, Ucapan di Tengah Konferensi Pers Pernyataan itu terlontar saat seorang pengacara kondang, Hotman Paris Hutapea, menjawab pertanyaan wartawan usai mendampingi kliennya.  
Nada tinggi dan kalimat, “Menurut kau gimana? Lu punya otak enggak?” viral dan memicu gelombang kritik.

Bagi sebagian orang itu ekspresi emosi. Bagi Persatuan Wartawan Indonesia, itu bentuk pelecehan terhadap profesi yang bertugas mengawal kebenaran.

Langkah PWI, Memilih Jalur Hukum Sebagai organisasi profesi, PWI tidak merespons dengan kemarahan di media sosial. Mereka memilih jalur yang lebih beradab: membawa perkara ini ke ranah hukum.

Sebagai bukti awal, PWI menyerahkan rekaman video konferensi pers yang telah beredar luas ke pihak berwajib. Tujuannya satu: agar terang benderang, agar ada kejelasan, dan agar ada batasan yang ditegakkan.

Pertanyaan Publik: Pasal Apa yang Dikenakan? Seorang advokat disumpah untuk membela keadilan. Seorang wartawan disumpah untuk menulis kebenaran. Ketika dua pilar demokrasi ini bersinggungan, publik bertanya: pasal apa yang pantas dikenakan ketika lisan justru melukai profesi lain?

Proses hukum kini berjalan. Biarlah penyidik, ahli, dan pengadilan yang mengujinya dengan terang. Bukan dengan asumsi, bukan dengan saling serang.

Catatan WartaBarkas: Wibawa Lahir dari Saling Menghormati Dermawan tidak hanya diukur dari seberapa banyak kita memberi. Dermawan juga diukur dari seberapa mampu kita menjaga lisan.

Wartawan punya tugas: bertanya, mengoreksi, dan mencerahkan.  
Pengacara punya tugas: membela, melindungi, dan memastikan hukum ditegakkan.  

Dua peran ini berbeda jalan, tapi satu tujuan: untuk Indonesia yang lebih adil.  
Karena itu wibawa lahir bukan dari siapa paling keras bersuara, tapi dari siapa paling mampu menghormati.

Semoga kasus ini jadi cermin. Bahwa kebebasan berpendapat harus dibingkai etika. Bahwa marah boleh, tapi jangan sampai melupakan martabat. Dan bahwa hukum ditegakkan agar kita semua dewasa bersama.

"Ketika Mic Lebih Tajam dari Palu Hakim" Hari ini kita menyaksikan pemandangan yang memprihatinkan, Seorang pembela hukum, yang seharusnya menjadi pagar terakhir keadilan, justru terpeleset oleh lisannya sendiri di depan umum.

Seorang wartawan, yang seharusnya menjadi cermin kebenaran, justru dilempar pertanyaan, “Punya otak enggak?”

Negeri ini tidak runtuh karena korupsi triliunan saja. Negeri ini juga bisa runtuh pelan-pelan... saat orang-orang yang paling paham hukum, mulai lupa adab.  
Saat orang-orang yang paling lantang bicara keadilan, mulai meremehkan profesi lain.

Ingat. Advokat tanpa etika, hanya akan jadi juru bicara arogansi. Wartawan tanpa keberanian, hanya akan jadi corong kekuasaan. Dan hukum tanpa rasa hormat, hanya akan jadi alat menang-menangan.

PWI memilih jalur hukum. Itu langkah wibawa. Karena kalau kita diam, maka besok lusa siapapun boleh menghina siapapun di depan kamera... lalu minta maaf, lalu mengulanginya lagi.

Cukup. Negeri ini butuh pengacara yang membela dengan dalil, bukan dengan bentakan. Negeri ini butuh wartawan yang bertanya dengan data, bukan dengan rasa takut. Negeri ini butuh publik yang menonton dengan nalar, bukan dengan tepuk tangan buta.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat siapa paling viral. Sejarah hanya mencatat, siapa yang menjaga marwah profesinya, dan siapa yang menjualnya demi sorotan.

Hukum ditegakkan bukan untuk memuaskan ego. Tapi agar anak cucu kita masih percaya... bahwa di negeri ini, kata-kata tetap punya harga, dan martabat tetap punya tempat.

Catatan Redaksi WartaBarkas Samsul Arifin
Peliput Lapangan: Sutrisno | Jurnalis/Wartawan

PT. MEDIA WARTA BARKAS
MEDIA INFORMASI ONLINE | WARTA BARKAS
Sekretariat: Kota Surabaya, Jawa Timur
Email Redaksi: wartabarkas@gmail.com, @wartabarkas.online