Media Informasi Online | WartaBarkas
Wartawan Berita Akurat Ringkasan Kasus
Info: Samsul Arifin
Jakarta, WartaBarkas - Publik kembali diingatkan untuk tidak terjebak pada narasi permukaan dalam perkara korupsi impor. R. Gautama Wiranegara, Spesialis Analisis Kontra Intelijen, menilai keberhasilan pemberantasan korupsi tidak cukup diukur dari jumlah tangan yang tertangkap memegang amplop.
Yang jauh lebih penting, katanya, adalah membongkar siapa yang mengendalikan kemudi dalam rantai impor nasional.
Korupsi Impor: Bukan Aksi Tunggal, Tapi Jaringan Sistemik “Korupsi impor tidak hidup di ruang hampa. Ia tumbuh dalam sistem yang panjang: banyak izin, banyak institusi, banyak tahapan, dan banyak aktor,” ujar Gautama, Senin 22 Juni 2026.
Baginya, pertanyaan kunci bukan “siapa menerima uang”, melainkan “siapa yang punya kuasa memengaruhi keputusan”.
Rantai itu, menurutnya, melibatkan Kementerian Perdagangan, BPOM, Karantina, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, operator pelabuhan, hingga perusahaan pelayaran. Dengan simpul sebanyak itu, kecil kemungkinan seluruh pengondisian hanya terjadi pada satu titik.
Sinyal dari Persidangan: Aliran Dana Melewati Satu Pintu, Fakta di ruang sidang mulai membuka peta yang lebih luas. Berita Acara Pemeriksaan yang dibacakan menyebut nama-nama yang dikaitkan dengan pejabat di BPOM dan Kementerian Perdagangan. Padahal, sorotan awal penyidikan masih bertumpu pada hasil Operasi Tangkap Tangan DJBC.
Di sinilah Gautama mengingatkan istilah partial network capture. “Itu kondisi ketika aparat berhasil menangkap sebagian jaringan, tapi belum menyentuh seluruh simpul pengaruh,” jelasnya.
Akibatnya, pelaku lapangan terlihat. Metodenya terlihat. Sebagian uangnya terlihat. Namun otak sistem dan mekanisme yang membuat praktik itu langgeng, belum tentu ikut terbongkar.
Bahaya Jika Hanya “Ganti Aktor, Modus Tetap Jalan”. “Kalau yang dibuka hanya orang yang menerima uang, sementara jalur yang membuat uang itu terus mengalir tidak disentuh, maka sistem akan mencetak pelaku baru,” kata Gautama bijak.
Orangnya bisa berganti. Kursinya bisa pindah. Tapi kalau celahnya masih ada, praktiknya akan mengulang diri.
Tantangan KPK hari ini, lanjutnya, bukan lagi membuktikan ada uang yang berpindah tangan. Tantangan yang lebih berat adalah menjelaskan bagaimana sebuah jaringan bisa memengaruhi penetapan risiko, jalur pemeriksaan barang, verifikasi dokumen, hingga terbitnya izin impor.
OTT Adalah Pintu, Bukan Tujuan Akhir “OTT itu pintu masuk. Tapi publik menunggu: apakah penyidik akan masuk ke ruang utama, atau berhenti di teras saja?” tegasnya.
Menurut Gautama, ukuran sukses perkara “Blue Ray” bukan dari banyaknya tersangka. Melainkan sejauh mana negara mampu memetakan titik rawan dalam sistem impor dan menutupnya secara permanen.
“Kalau hanya pelakunya yang ditangkap, negara menang satu perkara. Tapi kalau mekanismenya dibongkar, negara menang sistem. Dan kemenangan sistem itulah yang melindungi rakyat untuk jangka panjang,” pungkasnya.
Seruan untuk KPK: Sasar Mafia, Bukan Hanya Kurir Pernyataan ini menjadi dorongan moral bagi KPK agar tidak berhenti pada level eksekutor. Publik berhak menuntut keberanian lembaga antirasuah menelusuri hingga ke pusat komando yang selama ini membuat tata niaga impor rawan disusupi kepentingan.
Karena pada akhirnya, dermawan yang paling sejati adalah negara yang melindungi warganya dengan sistem yang bersih, bukan hanya dengan vonis yang banyak.
Peliput Lapangan: Edy Sutrisno | Jurnalis/Wartawan
PT. MEDIA WARTA BARKAS
MEDIA INFORMASI ONLINE | WARTA BARKAS
Sekretariat: Kota Surabaya, Jawa Timur
Email Redaksi: wartabarkas@gmail.com, @wartabarkas.online